Khamis, 10 Mac 2011


  • Tidak menyerah terhadap kesedihan, sehingga kesedihan tersebut tidak mampu menguasainya apalagi melumpuhkannya dari beramal. Beliau berkata, “Apapun tingkatan kesedihan itu hendaklah seseorang berada di jalan Allah Ta’ala dan orang-orang yang cerdik ialah yang tidak membiarkan kesedihannya menguasai dirinya apal;agi melumpuhkannya.”
  • Mencari jalan keluar dari jerat kesedihannya.
  • Kembali kepada Allah seraya memohon kepasa-Nya agar dijauhkan dari kesedihan dan gundah gulana, seperti dalam do’a Nabi:
    “Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sikap pengecut dan pelit, beban hutang dan paksaan orang lain.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
  • Menanamkan Ma’rifatullah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya  ke dalam hati. Seperti dalam firman Allah :
    “Janganlah kamu sedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”(At-Taubah: 40)
Ibnu Qayyim membagi jiwa manusia, ketika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dan menyakitkannya kepada dua bagian. Beliau berkata, “Ketika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan jiwa, maka jiwa manusia terbagi kepada dua keadaan, jika ia jiwa yang kerdil, maka ia akan sibuk memikirkannya dan bukan memikirkan sebab-sebab yang bisa mengeluarkannya dari kungkungan hal yang membuatnya tidak enak. Akibatnya ia akan senantiasa dirundung kesedihan. Sebaliknya orang yang berjiwa besar dan mulia,  ia tidak begitu memikirkan hal-hal yang tidak mengenakkannya bagi dirinya. Jika ia mengetahui ada jalan keluar, maka ia menganalisa jalan tersebut dan sebab-sebabnya. Namun jika ia mengetahui tidak ada jalan keluar di dalamnya, maka ia berfikir untuk beribadah kepada Alllah di dalamnya. Dan yang itu menjadi penawar kesedihan. Apa pun alasannya sedih itu tidak ada manfaatnya bagi dirinya.”

Tiada ulasan:

Catat Ulasan